Tangguh Menghadapi Tantangan Hidup

Tangguh Menghadapi Tantangan Hidup

Tangguh Menhadapi Tantangan HidupOleh : Dkn Satrio Wibowo

Bacaan : 1 Petrus 4:12-19

Di sekeliling keluarga kita ada banyak persoalan dan penderitaan. Masalah singgah tanpa memilah. Banyak keluarga mengeluh dan meratap. Keluarga Kristen pun tidak dikecualikan. Bencana, penyakit, dan tekanan bukanlah hal baru untuk keluarga kita.

Situasi ini kadang kala memaksa kita untuk memikirkan keistimewaan status kita sebagai orang-orang Kristen. Tidakkah Allah seharusnya melindungi anak-anakNya dari penderitaan? Mengapa Allah tega membiarkan anak-anakNya bernasib sama dengan dunia? Bukankah seharusnya Allah lebih berbelaskasihan terhadap anak-anakNya?

Dalam teks kita bulan ini, Rasul Petrus memikirkan dua jenis penderitaan: sebagai hukuman (karena keberdosaan kita) dan keniscayaan (karena status sebagai orang Kristen di tengah dunia). Jenis penderitaan yang pertama disiratkan dalam 1 Petrus 4:17. Tuhan mengamati dan menghakimi umatNya. Allah mengganjar dosa kita dengan hukuman (1 Petrus 4:1-3).

Jenis penderitaan yang kedua ditunjukkan melalui ungkapan- ungkapan “Karena nama Kristus” (4:14), “sebagai orang Kristen” (4:16), “karena kehendak Allah” (4:19).
Tidak peduli jenis penderitaan seperti apa yang kita sedang hadapi, kita perlu memiliki cara sikap yang benar terhadap penderitaan itu. Hal inilah yang membedakan orang-orang Kristen dari dunia. Situasi kita boleh sama namun cara sikap kita harus berbeda.

Situasi sulit dapat direspons secara berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagian orang mungkin memilih untuk melarikan diri dan mencari tempat aman. Sebagian lagi memutuskan untuk mengompromikan bertahan tetapi tidak berhenti mengeluh, meratapi nasib, dan menyalahkan pihak lain. Beberapa bahkan menunjukkan keputusasaan mereka dengan cara bunuh diri. Yang lain lagi bukan sekadar bertahan tetapi justru menjadi lebih baik melalui berbagai penderitaan yang dialami.

Salah satu faktor penentu di balik keragaman sikap di atas adalah cara pandang, penderitaan kita memiliki tujuan (ayat 12). Sesuatu yang terjadi secara kebetulan sering kali tidak memiliki tujuan. Penderitaan kita bukanlah peristiwa kebetulan. Petrus secara jelas menyebut penderitaan ini “karena kehendak Allah” (4:19). Menderita karena berbuat baik adalah “dikehendaki Allah” (3:17).
Karena penderitaan kita bersumber dari kehendak Allah yang baik, penderitaan tersebut juga memiliki tujuan yang baik pula, yaitu menguji kemurniaan iman kita (4:12).

Di awal suratnya Petrus menandaskan, “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya” (1 Petrus 1:7). Api bukanlah musuh emas. Sebaliknya, api justru membuktikan keistimewaan emas.

Bukan hanya memurnikan iman kita, penderitaan yang disikapi secara tepat akan memuliakan Allah (4:16). Menderita bagi Allah sudah merupakan kemuliaan karena Roh kemuliaan tinggal di atas kita (4:14). sikap yang dimunculkan seharusnya positif. Nah, apa saja sikap yang dikehendaki oleh Petrus dari penerima suratnya?

Sikap yang perlu ditunjukkan adalah bersukacita (ayat 13). Kata dasar “bersukacita” (chairō) muncul dua kali di ayat ini. Yang pertama merujuk pada sukacita kekinian (sekarang), yang kedua pada sukacita eskhatologis di akhir zaman. Orang Kristen seyogyanya terus-menerus bersukacita (chairete), dan akan bersukacita selamanya (charēte). Bukan hanya itu, sukacita eskhatologis ini diterangkan dengan partisipasi agalliōmenoi , yang juga berarti “bersukacita”sehingga beberapa versi menerjemahkannya menjadi “bersukacita dengan sukacita yang besar” atau “bersukacita luar biasa” atau “bersukacita dan berteriak kegirangan.”

Sukacita ini bukan penyangkalan realitas atau pengabaian kesedihan. Rasa sakit itu adalah nyata. Rasa sedih pun kadangkala muncul

bahwa Allah tetap mengontrol dan bahkan mengarahkan penderitaan untuk kebaikan kita. Pemahaman seperti inilah yang seharusnya lebih dominan menguasai diri kita.

Sikap yang lain adalah tidak malu (ayat 16). Pada zaman itu sebutan “orang Kristen” (christianos) seringkali adalah ungkapan ejekan. Orang- orang dunia yang tidak memahami makna penebusan Kristus di kayu salib pasti akan menganggap Kristus sebagai pribadi yang rendah. Jika pimpinannya saja direndahkan, apalagi para pengikutNya. Dibandingkan dengan orang-orang tertentu yang memilih untuk menyembah kaisar (disebut kaisaroi), christianoi terlihat begitu hina.

Dalam budaya kuno yang bergerak atas dasar “kehormatan dan aib” tekanan sebagai christianoi tentu tidak mudah untuk ditanggung. Stigma negatif dan gambaran karikatur sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Di tengah situasi semacam ini Petrus menasihati mereka untuk tidak usah malu. Lebih memalukan apabila mereka menderita karena berbuat salah.

Sikap terakhir yang dituntut dari orang-orang Kristen adalah berserah pada Allah secara aktif (ayat 19). Berserah biasanya terkesan pasif, namun teks ini menggabungkan berserah dengan keaktifan: menyerahkan jiwa dan berbuat baik. Kita melakukan bagian kita (berbuat baik), dan membiarkan Tuhan mengerjakan bagianNya (menentukan hidup kita).

Berserah bukanlah tindakan yang mudah. Penderitaan berat yang seolah-olah tak berakhir dan bersolusi sering kali menenggelamkan asa kita untuk tetap hidup dalam kebenaran. Tatkala Allah terkesan berdiam diri, kita biasanya tidak sabar dan berusaha menyelesaikan segala sesuatu dengan kekuatan kita. Namun, kita ha

rus ingat bahwa Allah adalah Pencipta (ayat 19). Dia juga Pencipta yang setia (ayat 19). Sebagai Pencipta, Dia berkuasa mengontrol dan menentukan hidup kita. Sebagai Pribadi yang setia, Dia akan selalu menyertai kita dan memegang janji- janjiNya.

Masihkah kita ragu untuk berserah penuh kepadaNya?

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *