Raja yang Menyamar

Raja yang Menyamar

Raja Israel berkata kepada Yosafat: “Aku akan menyamar dan masuk pertempuran, tetapi engkau, pakailah pakaian kebesaranmu.” Lalu menyamarlah raja Israel, kemudian mereka masuk ke pertempuran. (2 Tawarikh 18:29)

Saat kecil, ketika saya batuk, Ibu melarang saya makan gorengan, termasuk kerupuk. Namun, diam-diam saya makan kerupuk. Rupanya Ibu mendapati kerupuk di kaleng berkurang, dan ia bertanya siapa yang makan. Agar tak ketahuan, bergegas saya mencuci mulut. Tetap saja ulah saya ketahuan karena di kaos saya menempel remah-remah kerupuk.

Ahab sebetulnya tahu bahwa ucapan Mikha bin Yimla, yang menubuatkan malapetaka, adalah kebenaran (ay. 7). Karena itu, ia enggan mendengarkannya. Namun, berhubung Yosafat memintanya dan mereka berniat maju perang bersama, suka tak suka Ahab akhirnya memanggil Mikha (ay. 8). Saat Mikha menubuatkan kekalahan (ay. 16), Ahab sebetulnya percaya bahwa hal itu memang bakal terjadi. Ia pasti tewas dalam peperangan ini. Karena itu, ia berusaha mengakali Tuhan. Yosafat disuruhnya maju perang dengan pakaian kebesaran; Ahab maju perang dengan menyamar (ay. 29). Taktik ini memang bisa mengakali pasukan Aram, tetapi tidak bisa mengakali Tuhan yang Mahatahu. Ahab terbunuh dengan cara yang cukup unik, oleh panah yang ditembakkan asal-asalan dan tepat mengenai sambungan baju zirahnya (ay. 33).

Kita mungkin bisa mengakali manusia saat jatuh dosa, tetapi kita tidak bisa mengakali Tuhan. Jangan berusaha lari dari Tuhan saat jatuh dosa, tetapi akuilah dan bereskan. Allah selalu menepati setiap firman-Nya. Karena itu, kerjakanlah hal-hal yang diperkenan Tuhan agar kita menuai hal-hal yang mendatangkan kebaikan dalam hidup. –RTG
PENYAMARAN KITA BISA MENIPU MANUSIA,
TETAPI TIDAK AKAN PERNAH BISA MENIPU TUHAN.

Source

Share

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x