Menata Hidup Baru

Menata Hidup Baru

Menata Hidup Baru

Bacaan: Efesus 5: 8–14

Pada bagian ini, Paulus menasihatkan Jemaat di Efesus supaya mereka yang telah ditebus oleh Yesus Kristus dan menjadi anak-anak terang jangan menentukan tingkah laku mereka menurut ukuran-ukuran moral yang mereka pakai sebelum menjadi Kristen. Hidup mereka harus berubah, karena keberadaan diri mereka juga telah berubah. Peringatan terhadap segala bentuk kecemaran dengan disertai jalan keluar dan alasan-alasan tepat yang diajukan menjadi panduan dalam perubahan hidup. Menjadi kristen tidak hanya status atau pengakuan saja, tetapi juga harus mengalami perubahan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Rupa-rupa kecemaran meliputi segala jenis hawa nafsu yang cemar, yang sudah terlampau biasa dilakukan di antara bangsa-bangsa kafir. Atau keserakahan, yang demikian berkaitan dengan kejahatan lainnya, dan dikatakan sebagai suatu hal yang disebut saja pun jangan. Ada juga yang memahami hal itu dengan akal yang lebih sehat, yaitu hasrat yang kuat untuk memperoleh keuntungan atau cinta yang tidak pernah terpuaskan akan kekayaan. Hal seperti ini dianggap sebagai perzinahan rohani. Rasul Paulus tidak saja memperingatkan tentang perbuatan-perbuatan dosa yang besar, tetapi juga dosa-dosa yang cenderung dianggap remeh dan dapat dimaafkan. Demikian juga perkataan yang kotor (ay. 4), yang dapat diartikan sebagai berbagai bentuk isyarat badan dan tingkah laku yang tidak pantas. Yang kosong atau yang sembrono, yaitu percakapan yang cabul dan kotor, atau yang lebih umum dilakukan orang adalah semacam percakapan sia-sia yang menunjukkan banyak kebodohan dan kesembronoan, dan jauh dari mendidik.

Orang-orang Kristen diperbolehkan bergembira dan bersenang-senang, namun mereka harus bersuka ria dengan bijaksana. Rasul Paulus menambahkan, tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Biarlah kegembiraan orang Kristen dijauhkan sejauh mungkin dari kejenakaan yang bersifat cabul dan tidak senonoh, supaya ia dapat menggembirakan pikirannya serta membuat dirinya bersuka ria dengan tetap ingat untuk berterima kasih atas kebaikan dan belas kasihan Allah kepadanya, dan memuji dan membesarkan Dia atas hal-hal ini. Hiduplah di dalam kasih, dan menjadi pembawa damai dan suka cita bagi banyak orang.

Share

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x