Hidup Menjadi Pendamai

Hidup Menjadi Pendamai

Hidup jadi PendamaiOleh : Pnt Erabudi Widyastuti

Bacaan : Matius 5 : 1 – 2 , 9

Belakangan ini banyak kata-kata yang sepertinya mengekspresikan kesan “damai,” seperti “Peace Bro/Sist” sering terdengar dalam bahasa pergaulan atau di sosmed; “Damai itu Indah” ini juga kata-kata atau tulisan spanduk yang sering kita lihat di pojokan jalan, terutama saat-saat mendekati pilkada/pilpres.

Istilah “damai” juga sering kali kita gunakan saat berurusan dengan polisi untuk menghindari tilang, atau bahkan kita berdamai dengan sesama hanya karena untuk menghindari konflik semata dan untuk menyenangkan/memenuhi keinginan semua pihak. Ini tentunya jauh dari Pembawa Damai/Pendamaian yang dimaksud dalam Injil Matius 5:9.

Lalu apa yang dimaksud dengan pembawa damai/pendamai bagi orang percaya? Tentunya untuk menjawab ini hanya satu sumber yang kita miliki sebagai orang percaya, yaitu Alkitab yang isinya merujuk pada karya keselamatan melalui Tuhan Yesus. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal …(Yoh 3:16) dan Ia (Yesus) adalah pendamaian untuk segala dosa kita. (1Yoh2:2).

Allah adalah pihak yang berinisiatif mengadakan perdamaian dengan manusia yang berdosa oleh karena kasihNya yang begitu besar bagi dunia ini. Paling tidak dari kedua ayat di atas dan dari kehidupan Tuhan Yesus kita dapat belajar tentang menjadi pembawa damai atau pendamai sesuai Firman Allah.

Sama seperti mengasihi, berinisiatif untuk membawa damai/menjadi pendamai harus ada di dalam kehidupan orang percaya di manapun ia berada/ditempatkan. Dalam rumah tangga, keluarga, bergereja, pekerjaan/ bisnis, lingkungan, sosial media ataupun yag lebih luas lagi. Hal ini tidaklah mudah karena diperlukan ketulusan dan kerendahan hati. Belum lagi banyak tantangan yang harus dihadapi, waktu yang tersita, tenaga, pikiran dan perasaan yang terkuras, bahkan penolakan, kecurigaan dan aniaya dapat dialami oleh seorang pembawa damai/pendamai. Bercermin kepada kehidupan Yesus, Ia yang menjadi pendamaian antara manusia dan Allah, tetap setia menghadapi tantangan bahkan aniaya hingga mati tanpa berkompromi dengan cara dunia.

Kasih adalah kekuatan atau daya dorong bagi pembawa damai/pendamai, dan Roh Allah (Roh Kudus) adalah sumber hikmat yang menuntun kita menjadi pembawa damai/pendamai yang seturut dengan Firman Allah. Inilah yang harus ada dalam hidup orang percaya.

Kasih membuat kita menjadi pembawa damai yang tulus dan rendah hati, yang bukan sekadar kata-kata atau slogan kosong belaka; dan tuntunan Roh Kudus memampukan kita untuk menjadi pembawa damai kepada sesama manusia melalui hati, pikiran, keputusan, ucapan dan tindakan kita yang benar di hadapan Allah. Sehingga melalui tuntunan Roh Kudus, orang percaya dimampukan untuk tetap dapat menjadi pembawa damai bagi sesamanya tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang Allah telah tanamkan dalam diri orang percaya.

Kita yang telah menerima perdamaian dengan Allah melalui Kristus memiliki kesempatan untuk berperan sebagai pembawa damai di antara sesama. Dapat dimulai dari lingkup yang kecil seperti dalam rumah tangga dan keluarga, dapat dengan cara-cara yang sederhana seperti berbicara dengan lembut dan tidak emosi, tidak ikut bergossip tentang orang lain yang belum tentu kebenarannya, dapat juga dengan menjaga ucapan dan tindakan kita saat kita mengutarakan pendapat, terutama menjaga jempol kita saat bermedia sosial dan tidak dengan mudah meneruskan berita hoax dan provoktif.

Jadilah pembawa damai di mana Allah dipermuliakan oleh kerenanya.

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *