Berdamai dengan Penderitaan

Berdamai dengan Penderitaan

Semua orang tahu bahwa penderitaan itu tidak menyenangkan, tetapi banyak orang tidak mau menerima bahwa penderitaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Penderitaan memang dipakai Tuhan untuk menguji keimanan kita kepada-Nya. Sebab, tanpa penderitaan kita tidak mengerti rasanya kelegaan. Misalnya, kita diizinkan Allah mengalami sakit supaya kita tahu rasanya sehat.

Dalam kisah hidup Ayub, kita pun diingatkan tentang penderitaan yang diizinkan Allah dipakai oleh Iblis untuk mencobai Ayub. Kehidupan yang begitu sempurna diterima Ayub dari Tuhan. Iblis merasa tertantang untuk mencobai Ayub dan ingin tahu sampai sejauhmana Ayub mencintai Allah. Walaupun berat penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak pernah berpaling dari Allah, malahan ia semakin dekat dengan Allah.

Ayub memang sempat protes kepada Allah, namun kemudian ia menyesal dan menerima segala keadaannya. Dia berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:5-6).

Dalam masa Minggu Sengsara ini, kita diingatkan kembali tentang penderitaan Yesus di atas kayu salib. Pada masa hidup- Nya, Yesus pun mengalami segala caci-maki, fitnah, siksaan, bahkan

kematian sebagai korban penebusan bagi dosa-dosa manusia. Hal ini memang diizinkan Allah terjadi dalam diri Yesus agar manusia beroleh keselamatan kekal.

Memang benar bahwa keselamatan itu telah kita terima dari Allah. Namun, Allah tidak menjamin kehidupan kita sebagai pengikut Kristus akan berjalan dengan mulus-mulus saja. Hingga kini pun, Allah tetap memakai penderitaan untuk menguji sejauhmana keimanan kita terhadap-Nya. Allah menginginkan kita tetap bersyukur dalam menjalani kehidupan ini walaupun didera berbagai macam penderitaan.

Dalam Matius 16:24, Yesus secara tegas meminta dua hal yang harus dilakukan bagi setiap orang yang ingin menjadi pengikut- Nya, yaitu menyangkal diri dan memikul salib. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. Sungguh merupakan syarat yang ringan untuk diucapkan, namun berat untuk dilaksanakan.

Menyangkal diri merupakan sikap yang selalu menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Jadi, jikalau orang berkata bahwa ia siap menyangkal diri namun masih saja mengikuti kehendak hatinya, maka sebenarnya ia sudah kalah dalam peperangan rohani. Sebab, ia tidak menempatkan kebenaran dan kehendak Allah di atas segalanya.

Kemudian, hal yang kedua adalah tentang memikul salib. Salib dapat diibaratkan sebagai penderitaan yang amat berat. Jika kita pernah menonton film The Passion of Christ, kita menyaksikan bagaimana Yesus dalam kondisi yang sudah sangat lemah harus berjuang memikul salib menuju bukit Golgota. Inilah rangkaian akhir dari perjalanan panjang penderitaan Yesus dalam memberitakan kabar keselamatan, hingga mati di atas kayu salib.

Tergantung di atas kayu salib merupakan bentuk hukuman mati yang sangat mengerikan. Terlebih lagi bagi orang Yahudi, hukuman ini sangat dihindari karena dikutuk oleh Allah (Ulangan 21:23). Oleh karena itu, hukuman mati di atas kayu salib adalah bentuk penistaan yang paling keji
memberikan sanksi secara moril kepada orang tersebut karena secara sengaja dipertontonkan di depan orang banyak. Dengan cara seperti itulah mereka menistakan Yesus dan mensejajarkannya dengan para penjahat.

Di zaman sekarang ini, penderitaan yang kita alami tidaklah seberat penderitaan Yesus. Sebagai manusia biasa kita terkadang tidak mampu menerima sindiran, ejekan, caci-maki, fitnah, yang seringkali kita dengar dan kita alami di dalam kehidupan kita sehari-hari. Entah berapa kali, kita masih mengumpat dalam hati, membalas sindiran dengan sindiran, bahkan caci-maki dengan caci- maki. Padahal, Yesus telah memberikan teladan yang sangat baik. Dia menginginkan kita untuk bisa mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang telah menganiaya kita.

Tentang hal ini Alkitab menuliskan dalam 1 Petrus 3:9,11, demikian:

(9) dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.

(11) Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

Jadi, dalam penderitaan yang terasa begitu berat, kita harus terus berusaha mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Allah.

Sekali lagi, Allah memang mengizinkan penderitaan terjadi dalam hidup kita agar Dia dapat melihat bahwa kita tetap setia. Selamat berdamai dengan penderitaan, Tuhan memberkati.

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *